10 Tip Dasar Tambak Udang

Written by | Budidaya, Kesehatan Tambak, Peralatan, Udang

Budidaya udang membutuhkan ratusan aktivitas setiap hari. Begitu banyak tip dan artikel di luar sana, semoga tip dalam artikel ini berguna untuk anda.

1. Sterilisasi

Tidak bisa dipungkiri, sterilisasi merupakan langkah penting untuk menyediakan lingkungan yang bebas penyakit bagi udang. Sebelum menebar benur, sterilkan semua aspek tambak – kolam, peralatan dan air – untuk memastikan bahwa patogen dibasmi dan risiko penyakit diminimalisir.

Mari kita mulai:

Sterilisasi kolam dan peralatan

Pertama-tama, bersihkan kolam dan peralatan dengan semprotan bertekanan tinggi yang mengandung disinfektan. Banyak artikel merekomendasikan penggunaan 10 ppm Asam Trikloroisosianurat (TCCA) dan 30 ppm Natrium Hipoklorit atau kadang disebut sebagai Sodium Hipoklorit. Lihat di bawah untuk waktu pemaparan yang direkomendasikan dan konsentrasi untuk disinfeksi klorin.

Chart showing recommended exposure time and concentrations for chlorine disinfection of aquaculture equipment

Gambar 1. Waktu paparan dan konsentrasi yang direkomendasikan untuk disinfeksi klorin.

Setelah disinfeksi, gosok lapisan kolam untuk memastikan biofilm terangkat. Kemudian, buang semua sisa lumpur dari siklus sebelumnya karena ini adalah sumber patogen dan komponen berbahaya. Jika peternakan mengalami wabah penyakit pada siklus sebelumnya, gunakan kapur dengan pH hingga 11 untuk membasmi jamur dan mencegah wabah lebih lanjut pada siklus berikutnya.

Sterilisasi air

Sterilisasi air terdiri dari dua langkah: pra-filtrasi dan disinfeksi. Untuk pra-filtrasi, gunakan filter dengan jaring kurang dari 200-300 mikron di saluran masuk air untuk mencegah masuknya patogen, predator, dan benda padat lain yang tidak kita inginkan. Filter harus dibersihkan secara teratur dengan menggunakan air bersih dan menghilangkan kotoran.

Untuk proses disinfeksi air, gunakan disinfektan kimia untuk membasmi semua patogen. Aplikasikan 20–30 ppm Natrium Hipoklorit 60 persen, 0,5–2,5 ppm KMnO4 dan 10 ppm TCCA ke air yang disaring selama 24 jam. Pertahankan aerasi penuh selama disinfeksi kimiawi. Untuk menghilangkan sisa klorin, jumlah optimal Natrium Tiosulfat adalah tiga kali konsentrasi klorin. Terakhir, aplikasikan dua hingga tujuh kali selama 24 jam.

Biosecurity adalah salah satu cara utama untuk mencegah infeksi penyakit di peternakan dan juga wabah lebih lanjut di wilayah tersebut; ini menguntungkan tidak hanya satu petambak tetapi juga seluruh lingkungan.

2. Tingkatkan biosecurity Anda

Dalam budidaya udang, biosecurity sering diabaikan hanya sebagai tambahan infrastruktur yang tidak perlu dan prosedur kompleks dengan keuntungan moneter yang tidak jelas. Biosecurity adalah salah satu cara utama dalam mencegah penyakit di tambak dan wabah lainnya di wilayah tersebut; ini menguntungkan tidak hanya satu petambak tetapi juga seluruh lingkungan.

Biosecurity bekerja dengan mencegah masuknya patogen dan mengeluarkan patogen dari tambak. Berikut adalah beberapa tindakan biosecurity paling sederhana yang dapat Anda mulai terapkan di peternakan Anda.

  • Gunakan pond-liner – bahan yang paling umum digunakan adalah high-density polyethylene (HDPE). Penggunaan liner pada tambak memungkinkan kontrol air lebih mudah karena air tidak berinteraksi langsung dengan tanah. Interaksi langsung dengan tanah ini dapat memicu reaksi anoksik kompleks, yang sangat beracun bagi udang.
  • Lindungi peternakan dengan pagar – untuk mencegah masuknya hewan liar, seperti kepiting, yang mungkin membawa patogen yang tidak diinginkan.
  • Pergerakan orang dan kendaraan – semua karyawan dan pengunjung perlu menjalani prosedur desinfeksi dan pembersihan sebelum dan setelah masuk dan bekerja. Semua kendaraan harus melalui prosedur yang sama sebelum masuk dan keluar.
  • Tempatkan pakan dan probiotik di ruang penyimpanan khusus – untuk menjaga kebersihan, mencegah kontak dengan faktor luar yang dapat membawa penyakit dan memberikan suhu yang lebih stabil untuk pemeliharaan pakan yang lebih baik.
  • Laboratorium – keberadaan laboratorium penting untuk dua hal: menilai kualitas air dan memeriksa penyakit. Memiliki laboratorium yang andal di daerah Anda sangat bermanfaat, karena melakukan pemeriksaan ini secara lokal jauh lebih cepat daripada, misalnya, mengirim sampel air atau udang ke kota lain. Atau bisa dengan menggunakan alat ukur YSI yang portabel.
Nets and pond liners in use at an Indian shrimp farm

Tindakan biosecurity sederhana seperti jaring dan lapisan kolam dapat membantu mencegah wabah penyakit

3. Menjaga tingkat alkalinitas yang optimal

Alkalinitas adalah salah satu parameter kualitas air yang paling penting karena secara langsung mempengaruhi fluktuasi pH dan komposisi bakteri. Direkomendasikan untuk menjaga alkalinitas pada 120–150 ppm. Pemeliharaan alkalinitas dapat dilakukan dengan mengaplikasikan senyawa bikarbonat atau karbonat, seperti NaHCO3, KHCO3, Na2CO3, CaCO3, dan CaMg (CO3) 2. Lebih baik melakukan pemeliharaan secara berkala daripada ketika terjadi lonjakan alkalinitas, seperti kata pepatah, lebih baik mencegah daripada mengobati. Untuk memaksimalkan peningkatan alkalinitas, jumlah yang diterapkan pada masa pemeliharaan tidak boleh lebih dari 20 ppm.

Untuk mengetahui jumlah senyawa bikarbonat yang tepat untuk diaplikasikan, anda perlu mengetahui konsentrasi alkalinitas saat ini, itulah mengapa pengukuran periodik menjadi penting. Formula sederhana ini mungkin membantu:

(alkalinitas target – konsentrasi alkalinitas saat ini) dikalikan 2

Perawatan sebaiknya dilakukan pada malam atau pagi hari. Senyawa bikarbonat akan bereaksi dengan karbondioksida (CO2) yang lebih banyak tersedia pada malam hari hasil respirasi semua organisme.

4. Kalibrasi semua alat ukur Anda

Ini mungkin terdengar sederhana tetapi sebelum setiap siklus pastikan bahwa semua alat ukur Anda dikalibrasi ulang. Ini termasuk pengukur oksigen terlarut (DO), pengukur pH, refraktometer, dan alat uji kimia. Alat uji yang tidak terkalibrasi dapat menyebabkan kesalahan yang signifikan yang berujung pada kesalahan pengelolaan karena data yang tidak akurat. Alat yang dikalibrasi secara berkala dapat membantu Anda mendapatkan data yang lebih akurat tentang kondisi tambak dan memungkinkan Anda, sebagai petambak, membuat keputusan yang lebih baik.

5. Menilai kesehatan pasca-larva (PL) dan udang

Sebelum penebaran, PL dari tempat penetasan harus diperiksa secara teratur – secara visual atau, bahkan lebih baik, dengan mikroskop. Kesehatan udang juga harus dinilai seminggu sekali setelah penebaran. Ini bermanfaat untuk menjaga pertumbuhan udang yang optimal dan mendeteksi kemungkinan tanda-tanda penyakit. Hal-hal penting yang harus diperiksa adalah apakah:

  • Udang berenang secara aktif
  • Morfologi yang normal
  • Kondisi perut
  • Tidak ada organisme asing yang menempel
  • Tidak ada kekeruhan pada otot
  • Rasio lebar otot dan usus adalah 3: 1
  • Hepatopankreas besar dan gelap
  • Insang berwarna putih atau keabu-abuan
  • Tidak ada melanisasi (ditunjukkan dengan bintik hitam sampai kecoklatan)
  • Tidak ada residu mabung pada kepala udang
  • Tidak ada luka atau lekukan pada badannya

6. Pengambilan sampel udang secara teratur

Pengambilan sampel memungkinkan petambak untuk memahami pertumbuhan udang dan menyesuaikan rezim pakan, mencegah makan berlebih dan kurang makan. Disarankan untuk mengambil sampel udang setiap lima sampai tujuh hari dengan menggunakan jaring yang sesuai dengan ukuran udang saat ini. Pengambilan sampel dilakukan untuk memperkirakan berat badan rata-rata (MBW) yang dihitung dengan membagi berat total dengan jumlah udang.

Shrimp farm technician taking a biomass sample from the centre of the pond

Petambak harus mengambil sampel udang secara teratur untuk memastikan mereka menggunakan pakan secara efisien.

Yang juga penting untuk diperhatikan adalah bagaimana cara mengambil sampel, yang harus dilakukan secara representatif. Hindari pengambilan sampel di dekat baki pakan karena udang di sana cenderung lebih besar daripada yang lain. Ambil sampel acak secara vertikal – melingkupi bagian atas, tengah dan bawah kolom air – serta secara horizontal,mencakup berbagai sisi kolam. Hindari pengambilan sampel saat udang berganti kulit.

7. Gunakan metode baby bucket untuk pengambilan sampel

Jumlah total pasca-larva (PL) yang diperoleh dari tempat penetasan biasanya ditentukan dengan menghitung sampel kantong PL. Setelah penebaran, biasanya petambak tidak mengambil sampel susulan, namun sangat penting diketahui tingkat kelangsungan hidup 24 jam pasca tebar. Supaya kita mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang populasi udang setelah mereka mengalami proses yang memicu stres dan aklimatisasi.

Alune sedang bereksperimen dengan metode baby bucket untuk memperkirakan tingkat kelangsungan hidup. Baby bucket adalah ember kecil dengan lubang pada bagian sisinya yang dilapisi jaring. Cara mengambil sampel, isi baby bucket dengan 100 PL dan biarkan di permukaan kolam selama 24 jam. Setelah 24 jam, PL dapat dihitung untuk memperkirakan data awal populasi dan tingkat kelangsungan hidup. Data ini penting karena dapat digunakan untuk menyesuaikan pola makan yang tepat untuk menghindari makan berlebih atau kurang makan.

8. Waspada terhadap moulting

Pergantian kulit memungkinkan udang tumbuh lebih besar dan merupakan momen dalam masa pembesaran udang yang memerlukan perhatian khusus. Kita perlu mengetahui fase pergantian kulit udang dengan mengambil sampel secara teratur, dengan cara ini kita bisa lebih mempersiapkan diri saat pergantian kulit terjadi. Lebih baik mempersiapkan lingkungan yang tepat dengan menyediakan nutrisi mikro dan makro yang cukup untuk membantu udang menjalani pembentukan exoskeleton yang baru. Ini dapat membantu mencegah kematian karena pergantian kulit yang gagal. Beberapa mineral yang bermanfaat untuk membantu udang saat pergantian kulit adalah: Ca, Cu, Mg, Na, P, K, Se, dan Zn.

9. Aplikasikan probiotik pada waktu yang tepat

Probiotik adalah bakteri baik yang dapat meningkatkan pertumbuhan udang, mencegah stres dan penyakit, serta menjaga kualitas air yang baik. Probiotik lebih baik diterapkan pada awal siklus, membantu udang muda menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dan meningkatkan kualitas air. Dianjurkan juga untuk menerapkan probiotik selama situasi stres untuk udang, seperti pertukaran air dan panen parsial. Bakteri baik bekerja dengan cara meningkatkan kesehatan usus udang dan memelihara lingkungan yang relatif baik, yang akhirnya akan menurunkan tingkat stres.

Shrimp farm technicians standing on a platform on top of a shrimp pond, throwing a net into the water

Menerapkan probiotik selama panen parsial dapat mengurangi tingkat stres dan meningkatkan kualitas finishing.

10. Menerapkan fase pembibitan

Petambak udang biasanya menyimpan pasca-larva (PL) dari tempat penetasan langsung ke kolam tetapi ini berisiko karena PL memiliki kekebalan yang belum berkembang dengan baik. Meskipun membutuhkan investasi dalam infrastruktur, fase pembibitan membantu mengurangi risiko tersebut dengan memastikan bahwa sistem kekebalan PL ditingkatkan sebelum periode pembesaran.

Untuk mencapai hal ini, PL dari pembenihan harus ditebar di kolam atau tangki pembibitan yang relatif kecil, dengan kepadatan lebih dari 2000 PL / m2, selama 30 hari. Ukuran kolam / tangki yang kecil, berarti lebih sedikit probiotik yang dibutuhkan dan ini akan lebih efektif dibandingkan dengan di kolam pembesaran yang lebih besar, sehingga mengurangi kematian dan biaya.

Kesimpulan – menerapkan dasar-dasarnya

Kami memahami bahwa setiap tambak memiliki kebutuhan dan tantangan khusus. Namun, memecahnya menjadi dasar-dasar, tip berikut berlaku untuk berbagai petambak dalam berbagai keadaan. Kami berharap 10 tips sederhana ini dapat membantu petambak udang menerapkan sistem pengelolaan yang lebih baik untuk tambak mereka.

**diterjemahkan dari artikel asalnya di thefishsite.com

Last modified: May 18, 2021

6 Responses to :
10 Tip Dasar Tambak Udang

  1. Dedy says:

    To Whom it may concern,

    Thank you for sharing such a Wonderfull Information on shrimp farming .

    1. tambakudang says:

      You are welcome

  2. Sungkono says:

    Pond liner yg dimaksud sini apakah terpal biru biasa?

    1. tambakudang says:

      Seperti tercantum di artikel, kami menyarankan penggunaan HDPE sebagai pond-liner, bukan material yang berbahan terpal.

  3. Umar says:

    Informasi sangat membantu, terimakasih..

    1. tambakudang says:

      Sama-sama

Leave a Reply to tambakudang Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *