Sejarah White Feces Disease dan Cara Menanganinya

Written by | Kesehatan Tambak

SEJARAH

Pada awal tahun 2010, tergiur dengan harga jual udang yang tinggi, banyak petani udang di Thailand memutuskan untuk menambah kepadatan tebar untuk mencapai tingkat produksi yang tinggi. Oleh sebab itu, terjadi kenaikan suhu air (>32oC) dan peningkatkan jumlah pakan yang diberikan sehingga mengakibatkan peningkatan kadar bahan organic di dasar kolam. Tingginya kadar bahan organik di dasar kolam mengakibatkan munculnya patologis baru yakni Vibrio parahaemolyticus (green colony), V. fluvialis (yellow colony), V. vulnificus (green colony), V. mimicus (green colony), V. alginolyticus dan V. cholera. Keenam jenis vibrio pathogen tersebut disinyalir sebagai penyebab munculnya penyakit WFD atau yang sering disebut juga sebagai penyakit kotoran putih.

Penyakit ini pertama kali terdeteksi pada Penaeus Monodon, yang dibudidayakan pada perairan dengan salinitas rendah, namun kemudian menyebar ke seluruh wilayah produksi udang di Thailand, dimana sampai dengan saat ini sudah 99% beralih ke budidaya Litopenaeus Vannamei.

Dari hasil analisa selanjutnya, ditemukan Gregarine pada feses udang. Gregarine tersebut adalah Nemaptosis sp. Gregarine merupakan endoparasite yang terdapat pada midget udang. Protozoa ini banyak teramati dalam stadium tropozoit (bentuk aktif protozoa yang dapat menginvasi ke dalam jaringan). Kerusakan yang disebabkan oleh Gregarine bersifar minor, namun jika dalam kondisi besar mampu menyebabkan kerusakan tepi lambung dan menjadi perantara infeksi bakteri.

 

SKENARIO PENYAKIT

Penyakit ini terjadi pada kualitas dasar kolam yang berbeda dari kondisi normal, yang mengakibatkan memburuknya kualitas air. Tingkat kematian puncak terlihat pada tingkat oksigen yang sangat rendah (3,0 mg/l) dan kadar alkalinitas yang rendah pula (<80 ppm).

Indikasi awal penyakit ini adalah munculnya kotoran berwarna putih (seperti seutas benang) yang mengapung di permukaan air dan anco. (Gambar 1)

(Gambar 1) – Kotoran putih mengapung di permukaan air dan anco

GEJALA KLINIS

Gejala klinis yang dapat teramati antara lain: Perubahan warna kehitaman pada insang yang diakibatkan adanya protozoa epibiontik, cangkang yang longgar dan pengerutan pada hepatopancreas. Usus tidak terisi makanan namun terdapat untaian feses putih. Terkadang feses putih (panjangnya 2-3 cm) dapat terlihat pada ekor udang yang sakit. Disamping mengkerut, hepatopancreas juga mengalami perubahan warna menjadi putih biru. (Gambar 2)

WFD dapat menimbulkan dampak pada udang berupa penurunan nafsu makan, pertumbuhan terhambat dan kematian kronis. Konversi pakan (FCR) juga dilaporkan mengalami kenaikan 2 – 3 dibandingkan udang sehat yang berkisar 1,4 – 1,7.

(Gambar 2) – Fisik udang yang terinfeksi White Feces Disease (WFD)

 

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit WFD antara lain:

  1. Pengontrolan progam pakan
  2. Penanganan dasar tambak dan DO yang baik
  3. Penambahan asam organic pada pakan
  4. Penambahan probiotik untuk membersihkan dasar tambak
  5. Pemberian Immunostimulant pada pakan

Penambahan asam organik (Asam Asetat, Asam Format, Asam Laktat dan Asam Propionate) sebanyak 10 ml/kg pakan serta probiotik disinyalir dapat membantu mencegah udang dari infeksi WFD. Asam organik yang disarankan untuk ditambahkan ke dalam pakan adalah dalam bentuk cair, dikarenakan lebih mudah meresap ke dalam pakan.

Last modified: September 7, 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *