Apakah H2S Itu?

Written by | Kesehatan Tambak

H2S (Hidrogen Sulfida) adalah gas beracun yang tidak berwarna, mudah terbakar dan berbau seperti telur busuk. H2S muncul dari aktivitas biologis pada saat bakteri mengurai bahan organic dalam keadaan tanpa oksigen (anaerob), seperti di rawa dan saluran pembuangan kotoran. H2S terbentuk dari proses penguraian bahan-bahan organis oleh bakteri. Maka dari itu, H2S terdapat dalam minyak dan gas bumi, selokan, air yang tergenang, misalnya rawa-rawa dan juga terbentuk pada proses-proses industry maupun proses biologi lain.

Karakteristik H2S:

  1. Sangat beracun dan mematikan
  2. Tidak berwarna
  3. Lebih berat dari udara sehingga cenderung berkumpul dan diam pada daerah yang rendah
  4. Dapat terbakar dengan nyala api berwarna biru dan hasil pembakarannya (gas sulfur dioksida – SO2) juga merupakan gas beracun
  5. Sangat korosif, mengakibatkan karat pada logam tertentu
  6. Pada konsentrasi yang rendah, berbau seperti telur busuk dan dapat melumpuhkan indera penciuman manusia

H2S adalah salah satu senyawa toksik yang terdapat di sedimen dasar tambak yang anoksik (tidak ada oksigen / anaerob). Meskipun bersifat toksik bagi udang dan ikan, dan akan selalu ada di dasar tambak yang anoksik, namun penanggulangannya masih sering terabaikan.

Secara singkat, H2S terbentuk dari:

  1. Sisa atau buangan dari proses penguraian bahan-bahan organic, seperti sisa pakan, bangkai udang/ikan dan plankton yang terdapat di dasar tambak.
  2. Proses reduksi sulfat (SO42) oleh kelompok bakteri pereduksi sulfur.

H2S umumnya bersifat toksik bagi kebanyakan bakteria, namun ada sekelompok bakteri tertentu yang mampu menggunakan H2S sebagai sumber energid an pertumbuhannya. Bakteri fotosintetik anoksigenik (BFA) seperti Rhodobacter, Rhodopseudomonas, Rhodospirillum dan lain-lain serta bakteri golongan chemolitotrof akan mengoksidasi H2S menjadi sulfit (SO32-) dan selanjutnya sulfit diubah menjadi sulfat (SO42) yang tidak beracun.

Karena proses pembentukannya yang tanpa oksigen, H2S hanya akan dijumpai dalam lumpur dasar tambak / di dekat perbatasan antara permukaan endapan lumpur dan air tambak. Jika air dan lumpur di dasar tambak terusik karena arus air, kegiatan siphon atau saat hewan makan di atas lumpur tersebut, maka besar kemungkinan H2S akan berkontak dengan udang/ikan dan menyebabkan kondisi keracunan H2S. Jika tercium bau telur busuk saat endapan di dasar tambak dibongkar, itu merupakan indikasi terjadinya kondisi anaerob dan adanya gas H2S. Secara praktis, jika kita mampu mencium bau telur busuk dari lumpur tambak, maka itu sepadan dengan kira-kira 0.0047 ppm. Konsentrasi H2S ideal untuk di tambak adalah 0 (nol).

Ancaman H2S bagi hewan akuatik di antaranya adalah kerusakan pada insang, stress, hingga kematian. Jika hewan terpapar H2S dalam konsentrasi medium dan dalam waktu yang lama, gejala yang mungkin timbul adalah berkurangnya nafsu makan, pertumbuhan yang lambat, peningkatan kerentanan terhadap serangan bibt penyakit lain dan parasite, hingga terjadinya peningkatan kematian.

Keberadaan H2S di dalam tambak dipengaruhi oleh pH, suhu dan kadar DO. Toksisitas H2S tertinggi adalah pada pH <6,5. Tambak udang umumnya memiliki kisaran pH 7 – 9, namun patut kita waspada jika sewaktu-waktu terjadi penurunan pH yang disebabkan oleh respirasi alga terutama pada dini hari. Berlawanan dengan pH, toksisitas H2S meningkat di suhu tinggi dan sebaliknya, DO yang tinggi akan menurunkan toksisitas H2S karena keberadaan oksigen dapat mengubah H2S menjadi bentuk ion yang tidak bersifat non-toksik.

Patut diingat bahwa proses terbentuknya H2S adalah bagian dari siklus Sulfur yang akan terus terjadi di tambak. Cara terbaik untuk mengatasi H2S adalah dengan melakukan pencegahan terakumulasinya gas toksik tersebut di dasar tambak, yaitu dengan menambahkan probiotik Bacillus subtilis yang berfungsi sebagai pengurai bahan organik, serta thiobacillus. Bakteri thiobacillus bekerja dengan cara sistem reaksi oksidasi-reduksi pada senyawa-senyawa sulfur. Beberapa spesies thiobacillus yang direkomendasikan untuk pencegahan H2S adalah:

  1. Thiobacillus denitrificans

Berfungsi untuk menetralkan H2S dan Nitrit melalui reaksi denitrifikasi

  1. Thiobacillus ferooxidans

Dapat menetralkan racun H2S dan mengoksidasi ion besi yang menghambat respirasi dan pertumbuhan udang

  1. Thiobacillus thiooxidans

Berfungsi mengoksidasi senyawa sulfur menjadi senyawa yang tidak beracun dan menstabilkan air

  1. Thiobacillus novellus

Dapat menetralkan racun H2S dalam lingkungan dasar tambak yang sangat asam pada lahan gambut dan pirit

Last modified: July 11, 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *