Hepatopankreatic Microsporidiasis (HPM) atau Enterocytozoon Hepatopenaei (EHP)

Written by | Kesehatan Tambak

Enterocytozoon Hepatopenaei (EHP) adalah penyakit microsporidia yang pertama kali terjadi pada udang windu P. monodon di Malaysia tahun 1989. EHP dapat menyebar secara langsung melalui kanibalisme tetapi tidak memicu adanya White Feces Syndrome (WFS), EHP dapat juga ditemukan pada udang yang terinfeksi WFS. Kemungkinannya adalah EHP sebagai faktor pemicu WFS. Penularan EHP juga dapat melalui polychaeta dan molluscs (moluska)  namun belum diketahui apakah keduanya dapat bertindak sebagai carrier atau tidak. Kepiting dapat juga menjadi sumber penularan bagi udang. Penularan EHP tidak membutuhkan hospes. Hingga saat ini belum diketahui prevalensi EHP. Studi dari Central Institute of Brachiswater Aquaculture (CIBA) mengindikasikan kejadian EHP sekitar 15,6% dari 100 pembudidaya. Sekitar 16%-nya terdeteksi mengalami perlambatan pertumbuhan dan sebesar 50% mengalami WFS. Mortalitas yang disebabkan oleh EHP cukup bervariasi, laporan dari pembudidaya menunjukkan sebanyak 1-2% mortalitas harian.

Infeksi parasit EHP ini juga banyak dikaitkan dengan White Feces Syndrome (WFD-White Feces Disease). Udang yang terinfeksi EHP akan menghitam dan berukuran kecil. Parasit ini menginfeksi sel epitel tubulus hepatopankreas dari jaringan ikat udang. Kemudian membatasi jumlah nutrisi yang mampu diserap oleh hepatopankreas. Akibatnya udang menjadi kelaparan sehingga timbul perlambatan pertumbuhan.

Gambaran mikroskopis yang terlihat adalah adanya perubahan warna seperti susu pada otot akibat adanya pengumpulan mikrosporidia. Oleh karena itu penyakit ini disebut juga dengan “cotton shrimp disease” atau penyakit udang kapas.

(Gambar 1 – Udang yang terinfeksi EHP)

Pencegahan EHP pada tahap pembenihan dan pembesaran adalah dengan tidak menggunakan hewan hidup (polychaeta dan moluska) sebagai pakan. Sedangkan untuk di tambak dapat melakukan dua hal berikut untuk mengontrol EHP: Pertama, menggunakan benih yang terbebas dari EHP. Kedua, persiapan tambak dengan baik terutama pada tambak yang pernah mengalami EHP, spora EHP memiliki dinding yang tebal dan tidak mudah diin-aktivasi bahkan dengan menggunakan klorin dalam dosis tinggi.  Pada tambak yang masih berdasarkan tanah, dapat menggunakan CaO selama masa persiapan ulang lahan kolam. Karena EHP merupakan parasit yang membentuk spora, maka disinfeksi air dapat menjadi pertimbangan penting dalam masa persiapan untuk kolam yang belum pernah mengalami EHP.

Last modified: January 3, 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *