Manajemen Air dan Lumpur Tambak untuk WFD

Written by | Kesehatan Tambak

Dalam dunia pertambakan udang, white feses disease (WFD) menjadi isu yang selalu hangat diperbincangkan saat membahas penyakit udang. Maklum saja, hingga kini, WFD masih menjadi momok menakutkan bagi sebagian petambak udang kita.

Dari hasil pengamatan para praktisi, WFD atau penyakit kotoran putih yang kerap menyerang udang ini tak lepas dari buruknya manajemen lingkungan tambak, baik dari sisi kualitas air maupun dasar tambak. Demikian penjelasan Budhy Heryanto, Business Development Manager (AQVA Division) PT. Maxima Arta Prima.

Menurut Budhy, kualitas air tambak yang buruk ditandai dengan rendahnya nilai dissolved oxygen atau oksigen terlarut (DO) dan nilai keasaman (pH) yang berfluktuasi. Buruknya kualitas air pun tak lepas dari buruknya kualitas lingkungan dasar tambak. Akibat pemberian pakan yang berlebihan, material limbah organik yang menumpuk semakin banyak. Jika dibiarkan, kualitas pH perairan menjadi buruk.

Buruknya kualitas air dengan meningkatnya kesuburan organik perairan berimbas pada kehidupan plankton yang ada di perairan tambak. Ledakan jumlah plankton jelas akan mempengaruhi kadar oksigen terlarut di dalam air. Di malam hari, udang harus berkompetisi dengan plankton untuk mendapatkan oksigen terlarut. Jika terjadi kematian massal pada plankton, bisa dipastikan kualitas air tambak akan bertambah buruk.

Tak berhenti sampai di situ, menumpuknya limbah organik di dasar tambak menyebabkan jumlah bakteri vibrio meningkat. Kondisi minim oksigen terlarut dalam perairan tambak juga memicu berkembangnya bakteri anaerob, yang diduga sebagai salah satu biang keladi munculnya WFD.

Manajemen Kualitas Air

Sebelum dimasukkan ke dalam petak budidaya, air dari sungai atau laut harus ditampung terlebih dahulu dalam kolam tandon untuk diberi perlakuan (treatment) terlebih dahulu. Selama berada dalam kola mini, kualitas air diperhatikan agar sesuai dengan kualitas yang dibutuhkan udang untuk tumbuh dengan sehat.

Untuk menyuplai oksigen terlarut, keberadaan kincir sangat diperlukan dalam petak budidaya. Apalagi jika kepadatan udang di dalam tambak tinggi. Penempatan kincir juga bisa dilakukan dalam kolam tandon (treatment) jika diperlukan untuk memperkaya air dengan oksigen terlarut sebelum masuk petak budidaya.

Tak kalah penting, air yang dikeluarkan dari petak budidaya juga harus diperhatikan. Apalagi jika terdapat banyak petak tambak lain yang mengambil airnya dari sumber yang sama. Setelah panen, air budidaya diendapkan terlebih dahulu sebelum dilepaskan ke sungai, laut atau dipergunakan kembali.

Manajemen dasar tambak

Tambak yang baik memiliki kolam khusus untuk penampungan lumpur tambak. Setelah panen, lumpur organik dikeruk dan dibuang ke kolam khusus lumpur tersebut. Lumpur tambak dari petak budidaya sebaiknya tidak dibuang di sekitar petak pemeliharaan. Hal ini dikhawatirkan bisa menjadi jalan penyebaran bakteri penyebab penyakit ke petak budidaya yang lain.
Dengan menerapkan manajemen air dan lumpur di dasar tambak, proses pencegahan munculnya WFD bisa berjalan secara berkesinambungan. Tak hanya meningkatkan kualitas budidaya dalam tambak sendiri, cara ini juga memberikan dampak positif secara kolektif.

Cara pencegahan ini juga bisa diterapkan di berbagai segmen usaha tambak. Dalam penerapan resirkulasi air tambak, cara pencegahan ini bisa diaplikasikan, baik dengan komoditas monokultur maupun polikultur bersama ikan. Begitu pula dengan tambak yang masih menerapkan teknik konvensional.

Sumber: Majalah Info Akuakultur | Edisi No. 26/Tahun III/15 Maret 2017

Last modified: June 16, 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *