Menjaga Kestabilan Parameter Air Tambak

Written by | Kesehatan Tambak

Dalam semua budidaya perikanan, baik itu budidaya ikan maupun udang, air sangatlah dibutuhkan. Dan untuk mendapatkan hasil budidaya yang menguntungkan, maka kualitas air harus dijaga. Pada kesempatan ini, tambakudang.com akan membahas parameter air yang wajib dijaga pada budidaya udang vannamei. Parameter tersebut antara lain:

  • Suhu
    Suhu air sangat berpengaruh terhadap kehidupan mikroorganisme yang berada di dalam air, termasuk udang. Suhu air yang ideal adalah 28 – 31 oC.Udang sangat sensitif terhadap suhu. Perubahan suhu memiliki dampak tersendiri terhadap pola hidup udang. Jika suhu air rendah, maka nafsu makan udang akan menurun, pertumbuhan menjadi tidak normal, banyak kalori yang hilang sehingga dapat menyebabkan kematian. Hal ini dapat diantisipasi dengan cara menaikkan kedalaman air menjadi sekitar 100 cm dan melakukan sirkulasi air. Jika suhu air tinggi, maka nafsu makan udang akan menurun juga serta dapat mengakibatkan stress pada udang. Suhu tinggi ini dapat diantisipasi dengan cara menambah kedalaman air menjadi 130 cm dan melakukan sirkulasi air juga.
  • Salinitas
    Salinitas adalah total nilai garam/derajat keasinan yang terkandung dalam air dan dapat diukur menggunakan refractometer yang hasilnya dalam satuan ppt (part per thousand). Salinitas air yang baik untuk budidaya udang vannamei adalah 15 – 20 ppt.Salinitas air pada umumnya berpengaruh terhadap pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup udang (Anonim, 1985). Udang vannamei dapat tumbuh dan berkembang pada kisaran salinitas 15 – 25 ppt (Anonim, 1985 dan Ahmad, 1991). Salinitas air yang rendah, biasanya terjadi pada musim hujan, sangat berbahaya bagi udang karena dapat menurunkan kadar oksigen di dalam air dan udang akan cenderung memiliki kulit/cangkang yang tipis. Alkalinitas dan pH pun cenderung akan menurun sehingga diperlukan pemberian kapur secara rutin. Sedangkan apabila salinitas air tinggi, pertumbuhan udang akan relatif lambat, nafsu makan menurun sehingga FCR akan tinggi dan udang lebih mudah terserang pathogen. Hal ini dapat diantisipasi dengan menambah frekuensi penggantian air kolam dengan air laut. Salinitas tinggi biasanya terjadi pada saat musim kemarau.
  • Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen / DO)
    DO adalah sejumlah oksigen yang terikat (terlarut) dengan partikel air. Seperti yang kita ketahui, oksigen sangat dibutuhkan oleh semua makhluk hidup untuk beraktifitas, pertumbuhan, reproduksi dan lain-lain. DO yang optimal untuk budidaya udang vannamei adalah 4 – 8 ppm. DO dapat dihasilkan dari proses fotosintesis phytoplankton pada siang hari dan dari penggunaan kincir air serta aerator pada malam hariDO dipengaruhi oleh suhu, salinitas, pH dan bahan organik. Semakin tinggi salinitas, DO akan semakin rendah. DO yang terlalu rendah dapat disebabkan oleh lumut, plankton yang mati, kekentalan air serta jumlah bahan organik yang menumpuk. Antisipasinya adalah dengan melakukan penambahan jumah kincir air atau aerator yang memiliki gelembung-gelembung udara yang halus sehingga dapat membantu menguapkan kadar garam, mengangkat partikel-partikel organik yang kecil dan partikel-partikel gas bercaun.
  • Derajat Keasaman (pH)
    pH air kolam biasanya disebabkan oleh pH tanah dasar kolam. pH yang optimal untuk kehidupan udang adalah 7 – 8. Biasanya pH tanah dasar kolam yang rendah diikuti dengan tingginya kandungan bahan organik tanah yang terakumulasi dan tidak terjadi oksidasi yang sempurna (Anonim, 1985).pH rendah dapat mengakibatkan berkurangnya nafsu makan udang, alkalinitas tidak stabil dan udang mudah stress. Hal ini dapat diantisipasi dengan pemberian kapur baik itu pada masa persiapan kolam maupun selama budidaya berlangsung. Dosis pemberian kapur yang disarankan adalah:

    • Jika pH 4 s/d 5 : 1.000 – 1.500 Kg/Ha
    • Jika pH 5 s/d 6 : 500 – 1.000 Kg/Ha

Last modified: June 23, 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *